,


    Di jantung Sumatera Utara, tepatnya di kawasan Pulogodang, Kecamatan Pakkat, Kabupaten Humbang Hasundutan, terhampar sebuah kawasan yang kaya akan cerita sejarah dan potensi alam. Salah satu cerita yang berkembang di masyarakat Batak Toba adalah legenda mengenai keberadaan emas yang terkandung di Dolok Pinapan, kawasan yang terkenal dengan ribuan goanya. Meski terkesan seperti cerita rakyat biasa, kisah ini ternyata mengandung nilai sosial yang kuat dan menjadi bagian dari warisan lisan masyarakat Batak Toba.

    Penelitian yang dilakukan terhadap legenda Pulogodang di daerah ini menunjukkan bagaimana emas di Dolok Pinapan menjadi bagian dari cerita sosial yang diwariskan turun-temurun. Masyarakat setempat mempercayai bahwa di balik legenda ini terdapat pesan yang lebih mendalam mengenai hubungan manusia dengan alam, adat, dan kehidupan sosial mereka. Dalam kisah yang diwariskan ini, emas bukan hanya sekadar simbol kekayaan, tetapi juga bagian dari kehidupan spiritual dan sosial masyarakat Batak Toba.

    Penelitian ini mengungkapkan bahwa cerita tentang emas di Dolok Pinapan tidak hanya berfungsi sebagai mitos atau legenda belaka. Sebaliknya, ia mencerminkan nilai-nilai sosial yang relevan hingga saat ini, seperti hubungan manusia dengan lingkungan, penghargaan terhadap alam, serta pentingnya bekerja sama dalam komunitas. Tiga nilai utama yang diangkat dalam legenda ini adalah rasa hormat terhadap alam, kesadaran sosial dalam menjaga keseimbangan, dan pentingnya persatuan antar anggota masyarakat.

    Meskipun banyak yang mengenal kawasan ini melalui kisah legenda yang memukau, tak bisa dipungkiri bahwa Dolok Pinapan juga memiliki potensi alam yang sangat bernilai. Kawasan ini dikenal sebagai salah satu daerah dengan kandungan mineral yang melimpah, termasuk emas. Beberapa laporan geologi menyebutkan bahwa tanah di sekitar Dolok Pinapan memang mengandung sumber daya alam yang cukup potensial, dan tidak sedikit pencari emas yang tertarik mengeksplorasi kekayaan alam ini.

    Namun, potensi emas yang ada di Dolok Pinapan tidak lepas dari tantangan. Penambangan emas yang sering kali dilakukan secara ilegal menimbulkan dampak besar terhadap lingkungan. Penggundulan hutan, pencemaran air, dan kerusakan ekosistem menjadi masalah serius yang harus dihadapi oleh masyarakat dan pemerintah. Selain itu, potensi penambangan yang belum dikelola dengan baik menimbulkan kekhawatiran bahwa sumber daya alam ini akan habis tanpa memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat setempat.

    Pemerintah daerah dan berbagai pihak kini dihadapkan pada dilema besar. Di satu sisi, potensi tambang emas di Dolok Pinapan bisa menjadi sumber pendapatan yang signifikan bagi masyarakat. Di sisi lain, tanpa pengelolaan yang bijaksana, eksploitasi yang tidak terkendali akan menyebabkan kerusakan alam yang tidak dapat diperbaiki. Oleh karena itu, dibutuhkan pendekatan yang seimbang antara eksploitasi sumber daya alam dan pelestarian lingkungan hidup.

    Selain itu, keberadaan tambang emas di Dolok Pinapan juga memunculkan tantangan sosial. Masyarakat lokal harus menghadapi kenyataan bahwa penambangan bisa menimbulkan ketimpangan sosial, terutama jika hasilnya tidak dibagi secara adil. Hal ini sering kali memicu konflik antar warga, bahkan dengan pihak luar yang datang untuk mengeksploitasi sumber daya alam di kawasan tersebut.

    Salah satu solusi yang dapat dipertimbangkan adalah mengembangkan sistem penambangan yang ramah lingkungan dan berkelanjutan. Dengan memanfaatkan teknologi yang lebih modern dan ramah lingkungan, diharapkan kegiatan penambangan di Dolok Pinapan dapat memberikan manfaat ekonomis tanpa merusak alam. Selain itu, pengelolaan yang melibatkan masyarakat setempat juga dapat memastikan bahwa hasilnya dapat dinikmati oleh semua pihak dengan adil.

    Legenda emas di Dolok Pinapan juga mengajarkan kita mengenai pentingnya menjaga keseimbangan antara manusia dan alam. Sebagai bagian dari masyarakat Batak Toba, keberadaan emas di Dolok Pinapan bukan hanya simbol kekayaan material, tetapi juga simbol kesadaran sosial yang harus dijaga dan dipelihara. Cerita tentang emas ini mengajarkan nilai-nilai tentang tanggung jawab, harmoni dengan alam, dan pentingnya menjaga warisan budaya.

    Selain potensi alamnya yang kaya, Dolok Pinapan juga memiliki nilai sejarah yang tidak kalah penting. Kawasan ini menjadi saksi bisu perjuangan masyarakat Batak Toba selama masa penjajahan Belanda dan Jepang. Goa-goa yang tersebar di kawasan ini menjadi tempat perlindungan bagi mereka yang berjuang melawan penjajah. Oleh karena itu, Dolok Pinapan bukan hanya kaya akan sumber daya alam, tetapi juga kaya akan cerita sejarah yang perlu dilestarikan.

    Sebagai daerah yang memiliki potensi besar dalam sektor pariwisata, Dolok Pinapan juga menawarkan peluang untuk dikembangkan menjadi destinasi wisata sejarah dan alam yang menarik. Dengan kekayaan alam dan sejarah yang dimilikinya, kawasan ini berpotensi menjadi magnet bagi wisatawan domestik maupun internasional yang tertarik dengan keindahan alam dan cerita sejarah yang terkandung di dalamnya.

    Namun, untuk mewujudkan hal tersebut, diperlukan perencanaan yang matang dan pengelolaan yang profesional. Pembangunan infrastruktur yang memadai, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, serta promosi yang efektif akan membantu mengangkat nama Dolok Pinapan sebagai destinasi wisata yang menarik. Selain itu, dengan mengutamakan pelestarian alam dan budaya lokal, kawasan ini dapat berkembang menjadi sumber ekonomi yang berkelanjutan bagi masyarakat setempat.

    Ke depan, Dolok Pinapan harus bisa menjaga keseimbangan antara pengelolaan sumber daya alam dan pelestarian warisan budaya. Masyarakat setempat memiliki peran penting dalam menjaga kelestarian alam dan budaya, sementara pemerintah dapat memberikan dukungan dalam hal regulasi dan pengawasan. Dengan kolaborasi yang baik antara masyarakat, pemerintah, dan pihak swasta, Dolok Pinapan dapat menjadi contoh sukses dalam mengelola potensi alam dan budaya untuk kesejahteraan bersama.

    Legenda emas di Dolok Pinapan mengajarkan kita bahwa kekayaan alam bukan hanya untuk dieksploitasi, tetapi juga harus dijaga dan dilestarikan. Dalam menghadapi tantangan masa depan, penting untuk memiliki pendekatan yang bijaksana dalam mengelola sumber daya alam, sehingga dapat memberikan manfaat jangka panjang bagi generasi mendatang. Dolok Pinapan, dengan segala kekayaan alam dan sejarahnya, harus menjadi warisan yang dapat dinikmati oleh anak cucu kita kelak.

    Dalam konteks ini, penambangan emas di Dolok Pinapan harus dilakukan dengan cara yang berkelanjutan, mengutamakan keberlanjutan ekosistem dan kesejahteraan masyarakat. Ini adalah tantangan besar, tetapi juga peluang besar untuk menjadikan kawasan ini sebagai contoh pengelolaan sumber daya alam yang bertanggung jawab. Seiring dengan itu, cerita emas di Dolok Pinapan harus tetap hidup sebagai bagian dari warisan budaya yang kaya, mengingatkan kita akan pentingnya menjaga hubungan harmonis antara manusia dan alam.

    ,

    Di perbatasan hutan belantara Sumatera Utara, tersembunyi sebuah keajaiban alam yang tak banyak diketahui orang: Goa Dolok Pinapan. Dikenal dengan sebutan "Seribu Goa", kawasan ini menjadi salah satu situs yang penuh dengan cerita sejarah dan potensi alam yang menarik. Tidak hanya sebagai objek wisata alam, namun juga sebagai saksi bisu perjuangan rakyat dalam menghadapi penjajahan Belanda dan Jepang.

    Goa Dolok Pinapan terletak di kawasan hutan belantara Kabupaten Humbang Hasundutan, tepatnya di Banuarea Pakkat. Meskipun terkenal karena keindahan alamnya yang memikat, kawasan ini juga dikenal memiliki jejak sejarah yang kuat. Salah satu cerita yang paling banyak dibicarakan adalah bahwa kawasan ini dulunya digunakan sebagai tempat persembunyian oleh warga Batak Toba selama masa penjajahan Belanda dan Jepang.

    Saat Belanda dan Jepang menancapkan kekuasaannya di Indonesia, banyak daerah yang menjadi sasaran perlawanan. Salah satu daerah yang terkenal dengan perjuangan kerasnya adalah Tanah Batak. Goa Dolok Pinapan yang terletak di daerah ini, konon, menjadi tempat perlindungan bagi rakyat yang berusaha melindungi diri dari kejamnya penjajahan. Dengan ribuan goa yang tersebar di sepanjang kawasan ini, wilayah ini seolah-olah menyediakan labirin alami yang sulit dijangkau oleh musuh.

    Cerita rakyat yang berkembang menyebutkan bahwa Dolok Pinapan dengan seribu goanya adalah tempat ideal untuk bersembunyi. Tidak hanya sebagai tempat beristirahat, goa-goa ini juga digunakan untuk menyusun strategi perlawanan. Banyaknya goa yang ada memungkinkan rakyat untuk bergerak secara tersembunyi dan menghindari pengejaran pasukan kolonial. Seiring berjalannya waktu, kawasan ini menjadi simbol ketahanan dan semangat juang rakyat Batak Toba.

    Namun, apakah benar Goa Dolok Pinapan merupakan tempat persembunyian yang digunakan oleh rakyat pada masa penjajahan? Beberapa bukti sejarah dan cerita turun temurun dari masyarakat setempat memperkuat klaim tersebut. Namun, hingga kini, tidak ada bukti arkeologis yang secara pasti menyatakan bahwa goa-goa ini digunakan dalam perlawanan besar-besaran. Meski begitu, kisah ini tetap hidup dalam ingatan masyarakat Batak Toba dan menjadi bagian dari warisan sejarah mereka.

    Selain sebagai saksi sejarah, Goa Dolok Pinapan juga terkenal karena potensi alamnya yang luar biasa. Salah satu yang paling mencuri perhatian adalah kabar mengenai potensi emas yang terkandung di kawasan ini. Masyarakat setempat dan beberapa penambang sering kali mengaitkan daerah ini dengan potensi tambang emas yang sangat melimpah. Tak jarang, kawasan ini menjadi sasaran eksplorasi oleh para pencari emas, baik secara legal maupun ilegal.

    Beberapa laporan geologi mengungkapkan bahwa Dolok Pinapan memang terletak di daerah yang memiliki kandungan mineral yang kaya, termasuk emas. Meski demikian, penambangan di daerah ini seringkali dilakukan secara tradisional, tanpa adanya kontrol yang jelas. Kondisi ini memicu kekhawatiran terhadap dampak lingkungan yang ditimbulkan, serta potensi eksploitasi yang tidak terkendali. Meskipun demikian, kawasan ini tetap menjadi incaran bagi mereka yang mencari keberuntungan dari perut bumi.

    Penambangan emas di Dolok Pinapan memiliki dampak yang beragam bagi masyarakat setempat. Di satu sisi, banyak warga yang memperoleh pendapatan dari aktivitas ini. Namun di sisi lain, dampak negatif terhadap lingkungan juga tak dapat dihindari. Kerusakan alam, pencemaran air, dan penggundulan hutan menjadi isu yang sering dihadapi. Oleh karena itu, keberlanjutan sumber daya alam di Dolok Pinapan menjadi tantangan yang harus dikelola dengan bijaksana.

    Bagi masyarakat lokal, goa-goa ini tetap memiliki nilai budaya yang sangat tinggi. Selain sebagai bagian dari sejarah perjuangan, Dolok Pinapan juga menjadi tempat yang sakral. Bagi sebagian warga Batak Toba, goa-goa ini dipercaya memiliki kekuatan mistis yang mendalam. Mereka sering mengunjungi tempat ini untuk melakukan ritual adat atau sekadar berdoa. Kepercayaan ini menunjukkan betapa pentingnya kawasan ini dalam kehidupan spiritual masyarakat setempat.

    Pemerintah daerah dan berbagai pihak kini tengah berupaya untuk memanfaatkan kawasan Goa Dolok Pinapan dengan lebih baik, terutama dalam konteks pariwisata. Potensi wisata alam di kawasan ini sangat besar, dengan keindahan alam yang luar biasa dan nilai sejarah yang kuat. Jika dikelola dengan baik, Dolok Pinapan bisa menjadi destinasi wisata unggulan yang menarik pengunjung domestik maupun internasional.

    Namun, tantangan terbesar adalah bagaimana menjaga kelestarian alam dan budaya setempat, sementara juga menggali potensi ekonomi melalui pariwisata dan penambangan yang lebih ramah lingkungan. Pendekatan yang bijak dan melibatkan masyarakat lokal sangat diperlukan untuk mencapai keseimbangan antara pengembangan dan pelestarian.

    Sebagai salah satu situs sejarah yang kaya akan cerita perjuangan, Goa Dolok Pinapan perlu dipelihara agar generasi mendatang dapat mengenal dan menghargai perjuangan para pahlawan yang bersembunyi di dalam goa-goa tersebut. Selain itu, potensi alam yang ada, baik dalam bentuk kekayaan mineral maupun potensi pariwisata, harus dikelola dengan hati-hati agar manfaatnya dapat dinikmati tanpa merusak warisan alam dan budaya.

    Di masa depan, jika pengelolaan dilakukan dengan baik, Goa Dolok Pinapan dapat menjadi contoh sukses bagaimana sebuah tempat dengan sejarah yang kaya dapat berkembang menjadi destinasi wisata yang menarik, sekaligus menjadi pusat ekonomi yang berkelanjutan bagi masyarakat setempat.

    Dengan demikian, Goa Dolok Pinapan bukan hanya sekadar cerita masa lalu, tetapi juga cerminan potensi besar yang bisa dikembangkan. Kehadirannya sebagai saksi sejarah perjuangan rakyat Batak Toba selama masa penjajahan Belanda dan Jepang, serta potensi alam yang terkandung di dalamnya, menjadikannya sebagai tempat yang layak untuk diperhatikan dan dilestarikan.

    Dibuat oleh AI

    ,



    Peta tersebut di atas dibuat oleh sebuah kajian Kementerian ESDM. Peta lebih lengkap dapat di lihat di sini (lihat).


    , , , , , , , , , , ,

    Jajaran Polres Kuantan Singingi (Kuansing) melakukan penertiban terhadap Penambangan Emas Tanpa Izin ( PETI ) Daerah pulau pencong kelurahan muara lembu, Kecamatan Singingi, Selasa (6/2/2018) sore kemarin.

    Di lokasi, petugas mengamankan seorang pelaku Supardi, alias Pardi.

    Ia diketahui sebagai pekerja yang mengoperasikan mesin keruk, Donfeng. Mesin ini digunakan pelaku untuk mengeruk tanah mencari bijih emas.

    "Anggota Polsek singingi mendapatkan informasi dari masyarakat tentang adanya aktivitas Peti di lokasi itu. Informasi ini ditindaklankuti, dan menemukan adanya aktivitas penambangan oleh pelaku," ungkap Kabid Humas Polda Riau, Kombes Pol Guntur Aryo Tejo kepasa Tribun, Rabu (7/2/2018).

    Selain mengamankan pelaku, petugas juga mengamankan varang bujti lainnya, mesin pengeruk, karpet tiga lembar, air raksa sebanyak satu ons, dan sebatang paralon.

    "Kita amankan pelaku dan barang bukti. Terhadap pelaku kita interogasi," sebutnya. (sumber)

    , , , , , , , , , , ,

    Tambang emas. Apa yang terbayang? Berbongkah-bongkah logam kuning berkilau dikeruk dari perut bumi? Bongkah emas barangkali hanya ada dalam kisah suku Indian di novel Karl May. Kenyataannya, bijih emas jarang terlihat secara kasat mata. Jikapun terlihat, hanya berupa butiran kasar. Pada umumnya emas tersembunyi di bebatuan. Ukurannya mikro bahkan micron. Untuk menemukannya, butuh proses yang njelimet.

    “Tidak gampang menemukannya. Butuh kerja keras, biaya, dan teknologi,” kata Mustika Rivay, geologist lulusan Trisaksi Jakarta, yang setahun terakhir bekerja di Tambang Emas Martabe (PT Agincourt Resources) di Kecamatan Batangtoru, Tapanuli Selatan, kepada Sumut Pos akhir pekan kemarin.

    Mungkin, kata dia, jika sekadar menemukan bebatuan yang mengandung emas, bisa saja dalam hitungan hari. Tetapi untuk menentukan kadar, luas area, dan menghitung potensi emas untuk skala perusahaan tambang, perlu eksplorasi yang sering membutuhkan waktu hingga bertahun-tahun.

    “Pada tahap eksplorasi, tidak ada mineral berharga atau bahan tambang lainnya yang diambil atau ditambang. Dalam menjalankan kegiatan ini, perusahaan harus mengeluarkan dana yang tidak sedikit, tanpa bisa mengetahui secara pasti apakah akan mendapatkan cadangan mineral yang dicari,” katanya.

    Ia mencontohkan kegiatan eksplorasi di area sekitar Sungai Aek Pahu Kecamatan Batangtoru, Tapsel, yang kini menjadi Tambang Emas Martabe. Eksplorasi telah dilakukan sejak tahun 1997, di bawah bendera perusahaan PT Danau Toba Mining. Perusahaan milik Normandy Anglo Asia Pte. Ltd itu memasuki Tanah Batak tahun 1996 dan menemukan beberapa prospek. Seperti Simarpinggan (Kapur-Gambir), Aek Pahu (Batangtoru), dan Dolok Pinapan (Banuarea, Taput) pada tahun 1996. Kegiatan eksplorasi regional dilakukan dengan menerapkan metode Bulk Leach Extracable Gold (alat analisis geokimia untuk mengukur emas berbutir halus dan sampel yang heterogen).

    Menduga ada cadangan yang cukup, setahun berikutnya PT Danau Toba Mining menandatangani wilayah Kontrak Karya Generasi VI dengan luas 659.060 hektare, berdasarkan Persetujuan Presiden RI. Wilayah Kontrak Karya meliputi Kabupaten Tapanuli Utara, Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, Mandailing Natal, dan Kotamadya Padangsidimpuan. Flying camp (camp sementara) di Prospek Monyet (wilayah tambang Martabe saat ini).

    Kegiatan eksplorasi regional terus berjalan. Selain melakukan BLEG sampling, dilakukan juga pemetaan geologi dan alterasi, pengambilan contoh soil (soil sampling) di wilayah Kapur-Gambir dan Aek Pahu.

    Pada akhir tahun 1998, hasil dari kegiatan pemboran di berbagai titik, didapatkan alterasi dan mineralisasi yang menjanjikan di Bukit Purnama (Tor Sipalpal atau Pit 1 Martabe saat ini). Namun karena cadangan dianggap tidak sesuai yang mereka harapkan, perusahaan tidak melanjutkan sampai ke tahap eksploitasi.

    Tahun 2001, PT Danau Toba Mining digantikan oleh PT Horas Nauli (PT HN) untuk mengembangkan Proyek Tambang Emas Martabe. Namun hitung-hitungan PT HN juga memutuskan cadangan emas tidak sebesar yang mereka inginkan. Dua tahun berikutnya, Horas Nauli mundur, digantikan PT Newmont Horas Nauli.

    Tiga tahun berikutnya, Newmont Horas Nauli juga ikut mundur dan digantikan PT Agincourt Resources (Martabe), untuk melanjutkan pengembangan Proyek Tambang Emas Martabe.

    “Perusahaan-perusahaan itu menemukan potensi emas. Tapi kadar yang mereka temukan dianggap tidak sesuai standar cadangan untuk skala perusahaan mereka,” kata Mustika.

    Sebenarnya, bagaimana menemukan wilayah mana yang mengandung emas? Menurut Mustika, ada beberapa langkah. Langkah pertama: studi literatur. Lewat literatur, diketahui wilayah yang memiliki kontur topografi gunung dan lembah, dan dicurigai ada patahan dan rekahan.

    “Biasanya, ada mineral tertentu yang dikandung dalam patahan dan rekahan. Teorinya, gempa bisa memicu patahan yang memunculkan emas dari perut bumi. Air yang menguap dari patahan selama gempa mengandung deposit emas,” katanya.

    Setelah studi literatur, berikutnya survei udara/geofisika atau satelit. Metode ini dibagi menjadi dua bagian besar, yaitu foto udara (menggunakan satelit) dan geofisika (menggunakan helikopter) dengan hasil akhir berwujud analisa rekahan-rekahan yang berpotensi membawa mineral ekonomis naik ke atas.

    Saat ini, Australia dan Amerika Serikat merupakan negara termaju dalam teknologi citra satelit yang bisa menyingkapkan kandungan mineral bumi.

    Langkah berikutnya, perusahaan tambang menerjunkan para geologist. Para ilmuwan yang kerap disebut detektif alam inilah yang bertugas mengobservasi alam, dengan mempelajari bebatuan untuk mencari bukti tentang kandungan mineral di wilayah yang dituju.

    Berbekalkan alat tulis, kantong sampel, palu, pipa penanda tempat, kamera, GPS, tim geologi (biasanya terdiri dari geologist, medis, dan kru) berangkat ke area yang dipilih lewat sistem mapping. Sekali berangkat bisa beberapa tim dengan tujuan yang berbeda.

    “Eksplorasi membutuhkan biaya yang cukup besar. Dan bisa memakan waktu bertahun-tahun,” aku Gunawanta Bangun, geologist lulusan ITB yang sudah 10 tahun terakhir bekerja di Tambang Emas Martabe.

    Adapun kegiatan yang dilakukan para geologis, menurut Gunawanta, antara lain pengambilan contoh sedimen sungai. Kegiatan ini dilakukan pada tahap awal eksplorasi dengan mengambil contoh pasir dan lumpur di sepanjang aliran sungai yang berada di sekitar wilayah yang hendak diselidiki. Contoh endapan sungai ini kemudian dikirim ke laboratorium untuk mengetahui nilai kandungan logam.

    Adapun ciri pertama daerah yang mengandung emas adalah adanya sebaran batuan beku. “Batu kuarsa adalah salahsatu ciri pembawa emas,” katanya.

    Selain itu, contoh tanah dan batu juga diambil. Tindakan ini dilakukan untuk lebih meyakinkan nilai kandungan logam di suatu wilayah yang sudah pernah dilakukan pengambilan contoh endapan sungainya.

    Selanjutnya dilakukan pemetaan geologi, yakni peta penyebaran jenis-jenis batuan dalam suatu wilayah eksplorasi, yang diperkirakan mengandung bahan tambang. “Contohnya andesit, breksi, batu pasir, dan batu gamping,” kata Gunawanta.

    Kemudian survei pemetaan geologi, seperti pemetaan penyebaran jenis batuan di lokasi yang diikuti survei pemetaan geofisika, yakni pemetaan sifat-sifat fisik batuan yang diperkirakan mengandung bahan tambang. Sifat kekerasan batuan dan sifat kelistrikan batuan diteliti. Selanjutnya survei pemetaan geokimia, yakni pemetaan penyebaran unsur-unsur kimia batuan atau tanah yang diperkirakan mengandung bahan tambang.

    Untuk melakukan seluruh proses itu, satu tim bisa keluar masuk hutan selama 20 hari sampai 1,5 bulan. Tergantung kebutuhan. Untuk tidur, mereka menginap di flying camp terdekat.

    Menghadapi hujan, berkabut, jalanan licin, bertemu ular, beruang, lintah, pacat, tidak ada sinyal hingga tidak bisa berkomunikasi dengan keluarga, menjadi tantangan yang harus mereka atasi. “Tapi semuanya asyik-asyik saja,” kata Mustika diamini Gunawanta. Alasannya, selain kendala-kendala itu, pengalaman mengenal topografi sebuah wilayah, menemukan batu-batu langka, memancing ikan di sungai, juga menjadi hiburan tersendiri.

    Setelah Itu

    Setelah deposit emas ditemukan, langkah selanjutnya adalah menghitung nilai ekonomis cadangan emas yang tersedia untuk ditambang. Tiga perusahaan mundur dari Kontrak Karya Generasi VI di Tanah Batak setelah bertahun-tahun menghitung. Hanya Agincourt Resources yang berani menambang. Untungkah?

    Tiga perusahaan mundur dari Kontrak Karya Generasi VI dengan luas 659.060 hektare di tanah Batak, yang meliputi wilayah 5 kabupaten/kota. Alasannya, cadangan deposit emas di sana tidak sesuai skala mereka. Ketiganya masing-masing PT Danau Toba Mining, PT Horas Nauli, dan PT Newmont Horas Nauli.

    Setelah kontrak beralih ke PT Agincourt Resources (Martabe), barulah ada eksploitasi. Lantas, mengapa hanya Agincourt Resources berani mengeksploitasi?
    CEO Tambang Martabe, dr Peter Albert, menjawab pertanyaan Sumut Pos via juru bicara perusahaan, Catarina Siburian, mengatakan, cadangan dan sumber daya mineral biasanya dihitung per tahun dengan melibatkan berbagai ahli. Mulai dari Tim Ahli Geologi, para Insinyur Pertambangan, Tim Pengelolaan Lingkungan, Tim Hubungan Masyarakat, dan dibantu oleh konsultan.

    “Puncaknya, pimpinan akan menyetujui jumlah cadangan dan sumber daya tersebut, dan kemudian memperbarui data di Bursa Efek,” kata Peter.

    Ia menjelaskan, cadangan dihitung berdasarkan nilai ekonomis yang secara utama dipengaruhi oleh harga logam dan biaya operasional. “Pada kondisi harga logam yang rendah saat ini, banyak tambang berusaha keras menghasilkan keuntungan. Di Tambang Emas Martabe, kami menjalankan kegiatan operasional yang kompetitif dengan banyak keuntungan (infrastruktur pendukung), yang memastikan biaya kami akan tetap kompetitif, bila dibandingkan dengan persaingan dunia,” ungkapnya.

    Namun tak bisa dipungkiri, penurunan harga emas dan perak baru-baru ini tetap memberikan dampak pada PT AR —dan juga pada semua perusahaan pertambangan di dunia–, yakni keuntungan menyusut secara substansial. “Kami tentu berusaha keras untuk mengefisienkan biaya operasional di berbagai lini,” jelasnya.

    Ditanya mengapa tiga perusahaan sebelumnya memilih mundur dari Martabe, Peter menjawab, setiap perusahaan memiliki kriteria berbeda untuk mengevaluasi perkembangan tambang dalam rekam jejak mereka dan pada waktu yang berbeda. Selain itu, harga logam dan biaya produksi juga berdampak pada keputusan keuangan, sebagaimana juga dipengaruhi oleh faktor lainnya.

    Adapun G Resources berani memutuskan menambang di Batangtoru, karena berdasarkan hitung-hitungan mereka, kegiatan eksplorasi dan operasi di Martabe akan berlangsung hingga puluhan tahun ke depan.

    “Saat ini Martabe memiliki sumber daya sebesar 8,05 Moz, dan kami terus melakukan kegiatan eksplorasi untuk menemukan sumber-sumber baru. Kami berharap kegiatan ini akan terus berlanjut,” katanya. Ia berharap, Tambang Martabe terus memberikan manfaat bagi semua pihak, terutama masyarakat sekitar tambang di Batangtoru dan Muara Batangtoru.

    Juru bicara Tambang Martabe, Catarina Siburian menambahkan, sumber daya mineral yang telah diidentifikasi hingga akhir tahun 2012 adalah 8.05 juta oz emas dan 77 juta oz perak. Jumlah itu berasal dari tujuh deposit di dalam area Martabe, yaitu: Purnama, Purnama Timur, Barani, Ramba Joring, Horas, Tor Ulu Ala, dan Ulu Ala Hulu.

    “Jumlah ini terus bertambah seiring penemuan sumber daya baru dari kegiatan eksplorasi di dalam area Kontrak Karya. Pit Purnama salah satu deposit di Martabe, menghasilkan emas pertama Bulan Juli 2012,” katanya.

    Kontrak Karya G-Resources seluas 163.927 hektar terletak pada zona termineralisasi yang sangat prospektif, meliputi Tambang Emas Martabe di Kecamatan Batangtoru, ke arah Utara hingga daerah Pahae, dan arah Selatan hingga Rantau Panjang. Saat ini kegiatan eksplorasi berjalan di wilayah Pahae, Panobasan, dan Southern Corridor (Tano Tombangan). Adapun konsentrasi pertambangan saat ini berada di lokasi tambang Purnama.

    “Sesuai dengan kontrak karya, untuk memasuki ke tahap konstruksi, perusahaan boleh mempertahankan maksimum 25% dari luas wilayah KK semula,” kata Catarina. Washington Tambunan, penasihat PT AR mengatakan, area pertambangan Martabe dinilai ekonomis. “Lokasi strategis Proyek Martabe yang tidak jauh dari jalan lintas Sumatera, Pelabuhan Sibolga, Bandara Dr FL Tobing/Pinangsori dan Bandara Aek Godang, didukung fasilitas kelistrikan dari PLN menjadi nilai lebih pertambangan ini,” katanya.

    Juanda dari Bagian Processing Tambang Martabe mengatakan, saat ini sebanyak 10 ribu sampai 11 ribu ton batu yang mengandung mineral (raw material) digiling per 24 jam operasional, menjadi seukuran debu. Hasil gilingan ini kemudian dicampur dengan air dan zat kimia lainnya, dan disaring dengan karbon yang berfungsi menangkap partikel emas.

    Seluruh proses produksi ada enam tahapan. Dari 10 ribu-11 ribu ton bebatuan terpilih —biasa disebut ore— yang digiling per 24 jam operasional, rata-rata menghasilkan 150 kg batangan emas campur perak, dengan perbandingan 20 persen emas dan 80 persen perak.

    Hasil tambang berupa batangan campuran emas dan perak yang disebut dore atau billion ini memiliki berat 18-20 kilo per batang. Dore ini kemudian dikirim ke PT Aneka Tambang di Jakarta untuk dimurnikan, dan selanjutnya dijual di pasar logam mulia internasional.

    “Sebanyak 750 kg dore ini dikirim ke PT Antam 2 kali seminggu. Artinya dalam sebulan kira-kira 6 ton dore dikirim untuk pemisahan emas dan perak,” jelas Supervisor Gold Room PT AR, Antonio Ferdinando. Dengan perbandingan 20:80, bisa dihitung berapa kg emas yang ditambang tiap bulan. Belum lagi logam perak yang juga cukup berharga di pasaran.

    “Pit Purnama diperkirakan masih bisa dieksploitasi sampai 10 tahun ke depan,” katanya. Wow.

    Deposit emas bisa dibagi tiga tipe. Pertama tipe high sulfidation, yaitu tonase besar, kadarnya kecil. Kedua tipe low sulfidation, yaitu tonase kecil, kadar besar. Ketiga, porfiri yakni tonase besar, kadar besar. Batangtoru masuk tipe pertama:
    tonase besar, kadar kecil.


    Tambang emas Martabe di Batangtoru tergolong tipe high sulfidation. Perbandingannya 100.000:1 sampai 100.000:2,5. Artinya, dari 100.000 gram raw material, hanya 1 sampai 2,5 gram emas yang bisa diperoleh.

    “Tapi tipe ini biasanya bisa ditambang sampai 10 tahun,” kata Mustika Rivay, geologist yang setahun terakhir bekerja di Tambang Emas Martabe. Tipe emas di Tambang Martabe ukurannya micron. Saking kecilnya, penambang liar pun ogah bersusah-susah cari rezeki di sana.

    Bandingkan dengan tipe emas yang dicari penambang liar di Panyabungan Madina, yang diduga tergolong low sulfidation. Tipe ini biasanya mengikuti urat kuarsa. Kadar emasnya lebih banyak. Dan bijih emasnya lebih jelas.

    “Hanya saja seheboh-hebohnya urat kuarsa paling dalam 2 meter, dengan kandungan 60 gram emas per 2 meter. Letaknya biasanya terpisah-pisah. Jika ditambang, umur penambangannya umumnya pendek, 5 tahun sudah habis,” kata Mustika.

    Tipe porfiri dimiliki tambang emas Newmont di Nusa Tenggara Timur. Di sana, tonase materialnya besar, kadar emasnya juga besar. Ini jelas sangat menguntungkan.

    Sedangkan tambang Freeport-Papua memiliki ketiga tipe emas ini. Ada yang high, low, dan porfiri.

    Dalam melakukan penambangan emas tipe high sulfidation ini, PT Agincourt Resources tidak menggunakan zat mercuri, zat yang banyak dipakai penambang liar di Panyabungan-Madina untuk menangkap emas dari mineral lainnya.

    “Tambang Martabe tidak menggunakan bahan kimia berbahaya seperti air raksa atau merkuri untuk menangkap partikel emas. Dan semua lokasi pemboran telah mendapat izin dari pemerintah dan masyarakat setempat,” kata Catarina Siburian.

    Juanda, Bagian Processing Tambang Martabe menjelaskan, setelah raw material digiling menjadi seukuran debu, material dicampur dengan air di wadah pencampur berbentuk galon super besar, dan disaring dengan karbon (bukan air raksa). Karbon berfungsi untuk menangkap partikel-partikel emas berukuran micron.

    Selanjutnya, air disalurkan ke bendungan penampung lumpur sisa tambang emas atau tailing storage facility (TSF). Menurut Agus Supriyanto, Deputy Mine Manager, dinding dan dasar bendungan terdiri dari tanah liat, sehingga air tidak merembes ke aliran air tanah.

    Di bendungan sedalam 300-360 meter ini, ditampung 11-12 juta meter kubik air berisi ampas tambang yang sudah didetoksifikasi. Air ini terus menerus digunakan ulang untuk pencampuran material tambang.

    “Kalau air hujan menambah debit air di bendungan sehingga meluap, ada dua bendungan lain lagi untuk menampung dan menyaring limbah, sebelum air yang sudah ‘bersih’ mengalir ke hilir Aek Pahu. Tapi sudah sejak Mei, air bendungan tidak pernah meluap, dan air yang sama kita gunakan berulang-ulang untuk campuran bahan tambang,” jelasnya. Adapun air itu sebelumnya diambil dari parit-parit yang mengalir di sekitar areal tambang.

    Sedangkan aliran air dari hulu Aek Pahu yang ditutup sepanjang 3-4 km di areal bendungan, disalurkan langsung dari hulu menggunakan tiga pipa besar ke Aek Pahu hilir untuk memenuhi kebutuhan penduduk. Tujuannya, agar air tetap asli tanpa menyentuh kawasan bendungan.

    Agincourt mengatakan, pihaknya menerapkan standar tinggi dalam setiap upaya pengendalian dampak pada lingkungan serta kepatuhan pada peraturan keselamatan kerja. Luas bukaan lahan untuk keperluan lokasi pemboran dan landasan helikopter dibuat sesuai dengan kebutuhan. Ukuran standar untuk lokasi bor adalah 12 meter x 8 meter. Setelah kegiatan pemboran selesai, bukaan lahan ditanami kembali dengan bibit tanaman agar kembali menyerupai aslinya.

    Bahan hidrokarbon atau bahan kurang ramah lingkungan digunakan sesuai standar prosedur penjagaan lingkungan. Bila terjadi tumpahan, maka tanah yang tercemar harus diangkat dan diproses ulang dengan metode bioremediasi (metode penggunaan mikroorganisme untuk mengurangi polutan di lingkungan) agar hidrokarbon yang ada dalam tanah tersebut terurai.

    Selain bermain aman dalam penggunaan zat kimia, Tambang Martabe juga memilih untuk tetap menjaga lingkungan, dengan selalu melakukan rehabilitasi pada area bekas lokasi kegiatan pemboran.

    “Kita memiliki nursery yang untuk pembibitan pohon local dan pohon lainnya, untuk perbaikan lingkungan. Ini sebagai bentuk pertanggungjawaban sosial dan mendukung komitmen tambang hijau,” kata Catarina.

    Selain rehabilitasi pada area bekas lokasi kegiatan pemboran dengan bibit pohon local dan bibit pohon lainnya, pihak tambang juga menyalurkan dana CSR (Corporate Social Responsibility) sebagai kompensasi bagi warga sekitar. Antara lain terlibat aktif dalam kegiatan kemanusiaan, termasuk menangani bocah gizi buruk dan mendukung pelaksanaan Posyandu di sekitar tambang. Mendukung perikanan air tawar di puluhan desa, memperbaiki sejumlah infrastruktur, pelatihan intensifikasi buddaya kakao dan karet, pelatihan pembuatan kompos, menumbuhkembangkan wirausaha lokal, dan sebagainya.

    Komunikasi intensif juga dilakukan dengan masyarakat sekitar dan warga Tapsel umumnya. Rombongan warga yang ingin berkunjung selalu dilayani. Seperti belum lama ini, perusahaan menerima kunjungan ibu-ibu Bhayangkari dari Padangsidimpuan.

    Dalam kunjungan itu, para ibu Bhayangkari bertanya, apakah benar informasi yang mereka terima bahwa beberapa gempa yang terjadi akibat pemboran di pertambangan?

    Pihak Corporate Communications Agincourt pun menjelaskan, hal itu tidak mungkin terjadi. Karena alat bornya hanya berdiameter 7 cm, dan membor sekitar 200 meter ke bawah permukaan tanah. Mendapat penjelasan itu, para ibu pun berseru: “Ooooo… begitu. Kami pikir memang sungguhan bisa memicu gempa,” seru mereka seraya tertawa geli.

    Pemahaman-pemahaman yang kurang tepat yang berkembang di masyarakat, sebisa mungkin dikomunikasikan pihak perusahaan. Brosur pun diterjemahkan ke bahasa daerah setempat.

    “Saat ini, proyek Tambang Martabe telah menyerap lebih dari 4.000 tenaga kerja terserap, 40 persen di antaranya berasal dari lokal,” kata Catarina.

    Sedangkan untuk saham, tahun 2008 lalu telah dilakukan penandatanganan Nota Kesepahaman yang mengatur pengalihan saham di PT Artha Nugraha Agung yang memiliki 5% saham di PT Agincourt Resources kepada Pemda, dalam hal ini Pemerintah Kabupaten Tapanuli Selatan dan Pemerintah Propinsi Sumatera Utara. Saham itu akan dibayar dari dividen dengan sistem 50:50, 50 persen untuk pembayaran saham, 50 persen lagi untuk daerah.  (sumber)

    , , , , , , , , , , ,

    Doloksanggul. Kabupaten Humbang Hasundutan (Humbahas) banyak menyimpan potensi alam (tambang) yang melimpah dan tersebar di hamparan luas daratan kurang lebih 250.271,02 hektare (Ha). Kandungan bebatuan yakni satuan batuan metasedimen, sedimen, gunung api, tufa dasitik, terobosan dan alluvial.

    "Kandungan bebatuan itu dilihat dari stratigrafi. Di Humbahas banyak bahan tambang, tapi masih sedikit yang dimanfaatkan, salah satunya potensi batu gamping di batu harang Kecamatan Lintongnihuta dengan areal potensi lebih kurang 550 Ha," kata Kepala Kantor Pertambangan dan Energy Humbahas, Ir N Sigalingging.

    Demikian halnya potensi pasir gunung di Kecamatan Doloksanggul dengan luas potensi kurang lebih 30 Ha. Potensi lainnya dengan prospek bisnis yang menjanjikan untuk income masyarakat, seperti batu gunung di Desa Pandumaan, Kecamatan Pollung dengan luas potensi kurang lebih 20 Ha.

    Kemudian, potensi lempung (tanah liat) di Desa Simarigung, Kecamatan Doloksanggul yang dipergunakan sebagai bahan dasar pembuatan batu bata dengan luas cadangan lebih kurang 143 Ha. Potensi gambut di Aek Nauli, Kecamatan Doloksanggul dan Kecamatan Lintongnihuta.

    Sedangkan untuk potensi mineral emas dan tembaga terdapat di Dolok Pinapan, Kecamatan Onanganjang dengan luas potensi untuk penelitian detailnya lebih kurang luasnya 13.076 hektar. Potensi kaoline di Sibuluan, Kecamatan Onanganjang bisa digunakan untuk bahan baku keramik, tembikar dengan luas potensi lebih kurang 221 hektar.

    Kecamatan Sijamapolang menyimpan potensi granit terletak di Sibuntuon dengan luas potensi lebih kurang 4.500 hektare. Potensi timah hitam dan mineral terletak di Dolok Spinggol - pinggol dan Laemaga, Kecamatan Tarabintang  dengan luas detailnya lebih kurang 6.835 hektare dengan cadangan timah hitam dengan luas potensi lebih kurang 50.392 hektare. (sumber)

⬆
Top