Ketika Tambang Emas Dolok Pinapan Dilirik Perusahaan Raksasa Dunia

Tambang emas. Apa yang terbayang? Berbongkah-bongkah logam kuning berkilau dikeruk dari perut bumi? Bongkah emas barangkali hanya ada dalam kisah suku Indian di novel Karl May. Kenyataannya, bijih emas jarang terlihat secara kasat mata. Jikapun terlihat, hanya berupa butiran kasar. Pada umumnya emas tersembunyi di bebatuan. Ukurannya mikro bahkan micron. Untuk menemukannya, butuh proses yang njelimet.

“Tidak gampang menemukannya. Butuh kerja keras, biaya, dan teknologi,” kata Mustika Rivay, geologist lulusan Trisaksi Jakarta, yang setahun terakhir bekerja di Tambang Emas Martabe (PT Agincourt Resources) di Kecamatan Batangtoru, Tapanuli Selatan, kepada Sumut Pos akhir pekan kemarin.

Mungkin, kata dia, jika sekadar menemukan bebatuan yang mengandung emas, bisa saja dalam hitungan hari. Tetapi untuk menentukan kadar, luas area, dan menghitung potensi emas untuk skala perusahaan tambang, perlu eksplorasi yang sering membutuhkan waktu hingga bertahun-tahun.

“Pada tahap eksplorasi, tidak ada mineral berharga atau bahan tambang lainnya yang diambil atau ditambang. Dalam menjalankan kegiatan ini, perusahaan harus mengeluarkan dana yang tidak sedikit, tanpa bisa mengetahui secara pasti apakah akan mendapatkan cadangan mineral yang dicari,” katanya.

Ia mencontohkan kegiatan eksplorasi di area sekitar Sungai Aek Pahu Kecamatan Batangtoru, Tapsel, yang kini menjadi Tambang Emas Martabe. Eksplorasi telah dilakukan sejak tahun 1997, di bawah bendera perusahaan PT Danau Toba Mining. Perusahaan milik Normandy Anglo Asia Pte. Ltd itu memasuki Tanah Batak tahun 1996 dan menemukan beberapa prospek. Seperti Simarpinggan (Kapur-Gambir), Aek Pahu (Batangtoru), dan Dolok Pinapan (Banuarea, Taput) pada tahun 1996. Kegiatan eksplorasi regional dilakukan dengan menerapkan metode Bulk Leach Extracable Gold (alat analisis geokimia untuk mengukur emas berbutir halus dan sampel yang heterogen).

Menduga ada cadangan yang cukup, setahun berikutnya PT Danau Toba Mining menandatangani wilayah Kontrak Karya Generasi VI dengan luas 659.060 hektare, berdasarkan Persetujuan Presiden RI. Wilayah Kontrak Karya meliputi Kabupaten Tapanuli Utara, Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, Mandailing Natal, dan Kotamadya Padangsidimpuan. Flying camp (camp sementara) di Prospek Monyet (wilayah tambang Martabe saat ini).

Kegiatan eksplorasi regional terus berjalan. Selain melakukan BLEG sampling, dilakukan juga pemetaan geologi dan alterasi, pengambilan contoh soil (soil sampling) di wilayah Kapur-Gambir dan Aek Pahu.

Pada akhir tahun 1998, hasil dari kegiatan pemboran di berbagai titik, didapatkan alterasi dan mineralisasi yang menjanjikan di Bukit Purnama (Tor Sipalpal atau Pit 1 Martabe saat ini). Namun karena cadangan dianggap tidak sesuai yang mereka harapkan, perusahaan tidak melanjutkan sampai ke tahap eksploitasi.

Tahun 2001, PT Danau Toba Mining digantikan oleh PT Horas Nauli (PT HN) untuk mengembangkan Proyek Tambang Emas Martabe. Namun hitung-hitungan PT HN juga memutuskan cadangan emas tidak sebesar yang mereka inginkan. Dua tahun berikutnya, Horas Nauli mundur, digantikan PT Newmont Horas Nauli.

Tiga tahun berikutnya, Newmont Horas Nauli juga ikut mundur dan digantikan PT Agincourt Resources (Martabe), untuk melanjutkan pengembangan Proyek Tambang Emas Martabe.

“Perusahaan-perusahaan itu menemukan potensi emas. Tapi kadar yang mereka temukan dianggap tidak sesuai standar cadangan untuk skala perusahaan mereka,” kata Mustika.

Sebenarnya, bagaimana menemukan wilayah mana yang mengandung emas? Menurut Mustika, ada beberapa langkah. Langkah pertama: studi literatur. Lewat literatur, diketahui wilayah yang memiliki kontur topografi gunung dan lembah, dan dicurigai ada patahan dan rekahan.

“Biasanya, ada mineral tertentu yang dikandung dalam patahan dan rekahan. Teorinya, gempa bisa memicu patahan yang memunculkan emas dari perut bumi. Air yang menguap dari patahan selama gempa mengandung deposit emas,” katanya.

Setelah studi literatur, berikutnya survei udara/geofisika atau satelit. Metode ini dibagi menjadi dua bagian besar, yaitu foto udara (menggunakan satelit) dan geofisika (menggunakan helikopter) dengan hasil akhir berwujud analisa rekahan-rekahan yang berpotensi membawa mineral ekonomis naik ke atas.

Saat ini, Australia dan Amerika Serikat merupakan negara termaju dalam teknologi citra satelit yang bisa menyingkapkan kandungan mineral bumi.

Langkah berikutnya, perusahaan tambang menerjunkan para geologist. Para ilmuwan yang kerap disebut detektif alam inilah yang bertugas mengobservasi alam, dengan mempelajari bebatuan untuk mencari bukti tentang kandungan mineral di wilayah yang dituju.

Berbekalkan alat tulis, kantong sampel, palu, pipa penanda tempat, kamera, GPS, tim geologi (biasanya terdiri dari geologist, medis, dan kru) berangkat ke area yang dipilih lewat sistem mapping. Sekali berangkat bisa beberapa tim dengan tujuan yang berbeda.

“Eksplorasi membutuhkan biaya yang cukup besar. Dan bisa memakan waktu bertahun-tahun,” aku Gunawanta Bangun, geologist lulusan ITB yang sudah 10 tahun terakhir bekerja di Tambang Emas Martabe.

Adapun kegiatan yang dilakukan para geologis, menurut Gunawanta, antara lain pengambilan contoh sedimen sungai. Kegiatan ini dilakukan pada tahap awal eksplorasi dengan mengambil contoh pasir dan lumpur di sepanjang aliran sungai yang berada di sekitar wilayah yang hendak diselidiki. Contoh endapan sungai ini kemudian dikirim ke laboratorium untuk mengetahui nilai kandungan logam.

Adapun ciri pertama daerah yang mengandung emas adalah adanya sebaran batuan beku. “Batu kuarsa adalah salahsatu ciri pembawa emas,” katanya.

Selain itu, contoh tanah dan batu juga diambil. Tindakan ini dilakukan untuk lebih meyakinkan nilai kandungan logam di suatu wilayah yang sudah pernah dilakukan pengambilan contoh endapan sungainya.

Selanjutnya dilakukan pemetaan geologi, yakni peta penyebaran jenis-jenis batuan dalam suatu wilayah eksplorasi, yang diperkirakan mengandung bahan tambang. “Contohnya andesit, breksi, batu pasir, dan batu gamping,” kata Gunawanta.

Kemudian survei pemetaan geologi, seperti pemetaan penyebaran jenis batuan di lokasi yang diikuti survei pemetaan geofisika, yakni pemetaan sifat-sifat fisik batuan yang diperkirakan mengandung bahan tambang. Sifat kekerasan batuan dan sifat kelistrikan batuan diteliti. Selanjutnya survei pemetaan geokimia, yakni pemetaan penyebaran unsur-unsur kimia batuan atau tanah yang diperkirakan mengandung bahan tambang.

Untuk melakukan seluruh proses itu, satu tim bisa keluar masuk hutan selama 20 hari sampai 1,5 bulan. Tergantung kebutuhan. Untuk tidur, mereka menginap di flying camp terdekat.

Menghadapi hujan, berkabut, jalanan licin, bertemu ular, beruang, lintah, pacat, tidak ada sinyal hingga tidak bisa berkomunikasi dengan keluarga, menjadi tantangan yang harus mereka atasi. “Tapi semuanya asyik-asyik saja,” kata Mustika diamini Gunawanta. Alasannya, selain kendala-kendala itu, pengalaman mengenal topografi sebuah wilayah, menemukan batu-batu langka, memancing ikan di sungai, juga menjadi hiburan tersendiri.

Setelah Itu

Setelah deposit emas ditemukan, langkah selanjutnya adalah menghitung nilai ekonomis cadangan emas yang tersedia untuk ditambang. Tiga perusahaan mundur dari Kontrak Karya Generasi VI di Tanah Batak setelah bertahun-tahun menghitung. Hanya Agincourt Resources yang berani menambang. Untungkah?

Tiga perusahaan mundur dari Kontrak Karya Generasi VI dengan luas 659.060 hektare di tanah Batak, yang meliputi wilayah 5 kabupaten/kota. Alasannya, cadangan deposit emas di sana tidak sesuai skala mereka. Ketiganya masing-masing PT Danau Toba Mining, PT Horas Nauli, dan PT Newmont Horas Nauli.

Setelah kontrak beralih ke PT Agincourt Resources (Martabe), barulah ada eksploitasi. Lantas, mengapa hanya Agincourt Resources berani mengeksploitasi?
CEO Tambang Martabe, dr Peter Albert, menjawab pertanyaan Sumut Pos via juru bicara perusahaan, Catarina Siburian, mengatakan, cadangan dan sumber daya mineral biasanya dihitung per tahun dengan melibatkan berbagai ahli. Mulai dari Tim Ahli Geologi, para Insinyur Pertambangan, Tim Pengelolaan Lingkungan, Tim Hubungan Masyarakat, dan dibantu oleh konsultan.

“Puncaknya, pimpinan akan menyetujui jumlah cadangan dan sumber daya tersebut, dan kemudian memperbarui data di Bursa Efek,” kata Peter.

Ia menjelaskan, cadangan dihitung berdasarkan nilai ekonomis yang secara utama dipengaruhi oleh harga logam dan biaya operasional. “Pada kondisi harga logam yang rendah saat ini, banyak tambang berusaha keras menghasilkan keuntungan. Di Tambang Emas Martabe, kami menjalankan kegiatan operasional yang kompetitif dengan banyak keuntungan (infrastruktur pendukung), yang memastikan biaya kami akan tetap kompetitif, bila dibandingkan dengan persaingan dunia,” ungkapnya.

Namun tak bisa dipungkiri, penurunan harga emas dan perak baru-baru ini tetap memberikan dampak pada PT AR —dan juga pada semua perusahaan pertambangan di dunia–, yakni keuntungan menyusut secara substansial. “Kami tentu berusaha keras untuk mengefisienkan biaya operasional di berbagai lini,” jelasnya.

Ditanya mengapa tiga perusahaan sebelumnya memilih mundur dari Martabe, Peter menjawab, setiap perusahaan memiliki kriteria berbeda untuk mengevaluasi perkembangan tambang dalam rekam jejak mereka dan pada waktu yang berbeda. Selain itu, harga logam dan biaya produksi juga berdampak pada keputusan keuangan, sebagaimana juga dipengaruhi oleh faktor lainnya.

Adapun G Resources berani memutuskan menambang di Batangtoru, karena berdasarkan hitung-hitungan mereka, kegiatan eksplorasi dan operasi di Martabe akan berlangsung hingga puluhan tahun ke depan.

“Saat ini Martabe memiliki sumber daya sebesar 8,05 Moz, dan kami terus melakukan kegiatan eksplorasi untuk menemukan sumber-sumber baru. Kami berharap kegiatan ini akan terus berlanjut,” katanya. Ia berharap, Tambang Martabe terus memberikan manfaat bagi semua pihak, terutama masyarakat sekitar tambang di Batangtoru dan Muara Batangtoru.

Juru bicara Tambang Martabe, Catarina Siburian menambahkan, sumber daya mineral yang telah diidentifikasi hingga akhir tahun 2012 adalah 8.05 juta oz emas dan 77 juta oz perak. Jumlah itu berasal dari tujuh deposit di dalam area Martabe, yaitu: Purnama, Purnama Timur, Barani, Ramba Joring, Horas, Tor Ulu Ala, dan Ulu Ala Hulu.

“Jumlah ini terus bertambah seiring penemuan sumber daya baru dari kegiatan eksplorasi di dalam area Kontrak Karya. Pit Purnama salah satu deposit di Martabe, menghasilkan emas pertama Bulan Juli 2012,” katanya.

Kontrak Karya G-Resources seluas 163.927 hektar terletak pada zona termineralisasi yang sangat prospektif, meliputi Tambang Emas Martabe di Kecamatan Batangtoru, ke arah Utara hingga daerah Pahae, dan arah Selatan hingga Rantau Panjang. Saat ini kegiatan eksplorasi berjalan di wilayah Pahae, Panobasan, dan Southern Corridor (Tano Tombangan). Adapun konsentrasi pertambangan saat ini berada di lokasi tambang Purnama.

“Sesuai dengan kontrak karya, untuk memasuki ke tahap konstruksi, perusahaan boleh mempertahankan maksimum 25% dari luas wilayah KK semula,” kata Catarina. Washington Tambunan, penasihat PT AR mengatakan, area pertambangan Martabe dinilai ekonomis. “Lokasi strategis Proyek Martabe yang tidak jauh dari jalan lintas Sumatera, Pelabuhan Sibolga, Bandara Dr FL Tobing/Pinangsori dan Bandara Aek Godang, didukung fasilitas kelistrikan dari PLN menjadi nilai lebih pertambangan ini,” katanya.

Juanda dari Bagian Processing Tambang Martabe mengatakan, saat ini sebanyak 10 ribu sampai 11 ribu ton batu yang mengandung mineral (raw material) digiling per 24 jam operasional, menjadi seukuran debu. Hasil gilingan ini kemudian dicampur dengan air dan zat kimia lainnya, dan disaring dengan karbon yang berfungsi menangkap partikel emas.

Seluruh proses produksi ada enam tahapan. Dari 10 ribu-11 ribu ton bebatuan terpilih —biasa disebut ore— yang digiling per 24 jam operasional, rata-rata menghasilkan 150 kg batangan emas campur perak, dengan perbandingan 20 persen emas dan 80 persen perak.

Hasil tambang berupa batangan campuran emas dan perak yang disebut dore atau billion ini memiliki berat 18-20 kilo per batang. Dore ini kemudian dikirim ke PT Aneka Tambang di Jakarta untuk dimurnikan, dan selanjutnya dijual di pasar logam mulia internasional.

“Sebanyak 750 kg dore ini dikirim ke PT Antam 2 kali seminggu. Artinya dalam sebulan kira-kira 6 ton dore dikirim untuk pemisahan emas dan perak,” jelas Supervisor Gold Room PT AR, Antonio Ferdinando. Dengan perbandingan 20:80, bisa dihitung berapa kg emas yang ditambang tiap bulan. Belum lagi logam perak yang juga cukup berharga di pasaran.

“Pit Purnama diperkirakan masih bisa dieksploitasi sampai 10 tahun ke depan,” katanya. Wow.

Deposit emas bisa dibagi tiga tipe. Pertama tipe high sulfidation, yaitu tonase besar, kadarnya kecil. Kedua tipe low sulfidation, yaitu tonase kecil, kadar besar. Ketiga, porfiri yakni tonase besar, kadar besar. Batangtoru masuk tipe pertama:
tonase besar, kadar kecil.


Tambang emas Martabe di Batangtoru tergolong tipe high sulfidation. Perbandingannya 100.000:1 sampai 100.000:2,5. Artinya, dari 100.000 gram raw material, hanya 1 sampai 2,5 gram emas yang bisa diperoleh.

“Tapi tipe ini biasanya bisa ditambang sampai 10 tahun,” kata Mustika Rivay, geologist yang setahun terakhir bekerja di Tambang Emas Martabe. Tipe emas di Tambang Martabe ukurannya micron. Saking kecilnya, penambang liar pun ogah bersusah-susah cari rezeki di sana.

Bandingkan dengan tipe emas yang dicari penambang liar di Panyabungan Madina, yang diduga tergolong low sulfidation. Tipe ini biasanya mengikuti urat kuarsa. Kadar emasnya lebih banyak. Dan bijih emasnya lebih jelas.

“Hanya saja seheboh-hebohnya urat kuarsa paling dalam 2 meter, dengan kandungan 60 gram emas per 2 meter. Letaknya biasanya terpisah-pisah. Jika ditambang, umur penambangannya umumnya pendek, 5 tahun sudah habis,” kata Mustika.

Tipe porfiri dimiliki tambang emas Newmont di Nusa Tenggara Timur. Di sana, tonase materialnya besar, kadar emasnya juga besar. Ini jelas sangat menguntungkan.

Sedangkan tambang Freeport-Papua memiliki ketiga tipe emas ini. Ada yang high, low, dan porfiri.

Dalam melakukan penambangan emas tipe high sulfidation ini, PT Agincourt Resources tidak menggunakan zat mercuri, zat yang banyak dipakai penambang liar di Panyabungan-Madina untuk menangkap emas dari mineral lainnya.

“Tambang Martabe tidak menggunakan bahan kimia berbahaya seperti air raksa atau merkuri untuk menangkap partikel emas. Dan semua lokasi pemboran telah mendapat izin dari pemerintah dan masyarakat setempat,” kata Catarina Siburian.

Juanda, Bagian Processing Tambang Martabe menjelaskan, setelah raw material digiling menjadi seukuran debu, material dicampur dengan air di wadah pencampur berbentuk galon super besar, dan disaring dengan karbon (bukan air raksa). Karbon berfungsi untuk menangkap partikel-partikel emas berukuran micron.

Selanjutnya, air disalurkan ke bendungan penampung lumpur sisa tambang emas atau tailing storage facility (TSF). Menurut Agus Supriyanto, Deputy Mine Manager, dinding dan dasar bendungan terdiri dari tanah liat, sehingga air tidak merembes ke aliran air tanah.

Di bendungan sedalam 300-360 meter ini, ditampung 11-12 juta meter kubik air berisi ampas tambang yang sudah didetoksifikasi. Air ini terus menerus digunakan ulang untuk pencampuran material tambang.

“Kalau air hujan menambah debit air di bendungan sehingga meluap, ada dua bendungan lain lagi untuk menampung dan menyaring limbah, sebelum air yang sudah ‘bersih’ mengalir ke hilir Aek Pahu. Tapi sudah sejak Mei, air bendungan tidak pernah meluap, dan air yang sama kita gunakan berulang-ulang untuk campuran bahan tambang,” jelasnya. Adapun air itu sebelumnya diambil dari parit-parit yang mengalir di sekitar areal tambang.

Sedangkan aliran air dari hulu Aek Pahu yang ditutup sepanjang 3-4 km di areal bendungan, disalurkan langsung dari hulu menggunakan tiga pipa besar ke Aek Pahu hilir untuk memenuhi kebutuhan penduduk. Tujuannya, agar air tetap asli tanpa menyentuh kawasan bendungan.

Agincourt mengatakan, pihaknya menerapkan standar tinggi dalam setiap upaya pengendalian dampak pada lingkungan serta kepatuhan pada peraturan keselamatan kerja. Luas bukaan lahan untuk keperluan lokasi pemboran dan landasan helikopter dibuat sesuai dengan kebutuhan. Ukuran standar untuk lokasi bor adalah 12 meter x 8 meter. Setelah kegiatan pemboran selesai, bukaan lahan ditanami kembali dengan bibit tanaman agar kembali menyerupai aslinya.

Bahan hidrokarbon atau bahan kurang ramah lingkungan digunakan sesuai standar prosedur penjagaan lingkungan. Bila terjadi tumpahan, maka tanah yang tercemar harus diangkat dan diproses ulang dengan metode bioremediasi (metode penggunaan mikroorganisme untuk mengurangi polutan di lingkungan) agar hidrokarbon yang ada dalam tanah tersebut terurai.

Selain bermain aman dalam penggunaan zat kimia, Tambang Martabe juga memilih untuk tetap menjaga lingkungan, dengan selalu melakukan rehabilitasi pada area bekas lokasi kegiatan pemboran.

“Kita memiliki nursery yang untuk pembibitan pohon local dan pohon lainnya, untuk perbaikan lingkungan. Ini sebagai bentuk pertanggungjawaban sosial dan mendukung komitmen tambang hijau,” kata Catarina.

Selain rehabilitasi pada area bekas lokasi kegiatan pemboran dengan bibit pohon local dan bibit pohon lainnya, pihak tambang juga menyalurkan dana CSR (Corporate Social Responsibility) sebagai kompensasi bagi warga sekitar. Antara lain terlibat aktif dalam kegiatan kemanusiaan, termasuk menangani bocah gizi buruk dan mendukung pelaksanaan Posyandu di sekitar tambang. Mendukung perikanan air tawar di puluhan desa, memperbaiki sejumlah infrastruktur, pelatihan intensifikasi buddaya kakao dan karet, pelatihan pembuatan kompos, menumbuhkembangkan wirausaha lokal, dan sebagainya.

Komunikasi intensif juga dilakukan dengan masyarakat sekitar dan warga Tapsel umumnya. Rombongan warga yang ingin berkunjung selalu dilayani. Seperti belum lama ini, perusahaan menerima kunjungan ibu-ibu Bhayangkari dari Padangsidimpuan.

Dalam kunjungan itu, para ibu Bhayangkari bertanya, apakah benar informasi yang mereka terima bahwa beberapa gempa yang terjadi akibat pemboran di pertambangan?

Pihak Corporate Communications Agincourt pun menjelaskan, hal itu tidak mungkin terjadi. Karena alat bornya hanya berdiameter 7 cm, dan membor sekitar 200 meter ke bawah permukaan tanah. Mendapat penjelasan itu, para ibu pun berseru: “Ooooo… begitu. Kami pikir memang sungguhan bisa memicu gempa,” seru mereka seraya tertawa geli.

Pemahaman-pemahaman yang kurang tepat yang berkembang di masyarakat, sebisa mungkin dikomunikasikan pihak perusahaan. Brosur pun diterjemahkan ke bahasa daerah setempat.

“Saat ini, proyek Tambang Martabe telah menyerap lebih dari 4.000 tenaga kerja terserap, 40 persen di antaranya berasal dari lokal,” kata Catarina.

Sedangkan untuk saham, tahun 2008 lalu telah dilakukan penandatanganan Nota Kesepahaman yang mengatur pengalihan saham di PT Artha Nugraha Agung yang memiliki 5% saham di PT Agincourt Resources kepada Pemda, dalam hal ini Pemerintah Kabupaten Tapanuli Selatan dan Pemerintah Propinsi Sumatera Utara. Saham itu akan dibayar dari dividen dengan sistem 50:50, 50 persen untuk pembayaran saham, 50 persen lagi untuk daerah.  (sumber)


Tidak ada komentar:

Write a Comment


Top